Anindya

 Cantik jelita menjadi nilai tertinggi bagi seorang perempuan. Semua ingin menjadi cantik sesuai standar masyarakat. Namun hebatnya Tuhan menciptakan manusia unik dan berbeda satu sama lain. Tuhan bahkan memberikan manusia kelebihan dan kekurangan yang imbang. Bahkan seorang nabi pun mengatakan ia bukanlah manusia yang sempurna. Sayangnya masih banyak manusia yang merendahkan manusia lain.

Anindya tak menjadi milik semua perempuan. Hanya sebagian yang dianggap memenuhi syarat seorang dikatakan Anindya atau cantik jelita. Aku tinggal di tempat dimana standar kecantikan dipatenkan memiliki kulit putih, hidung mancung, mata almond, dan bibir tipis. Ketika semua itu meleset, akan ada segelintir orang mencela dan mulai membandingkan. Sayangnya labeling cantik begitu kuat mengikis percaya diri yang dulu telah terbentuk cukup kuat. 

Haruskah ku salahkan orang-orang yang dulu saat balita pernah memujiku cantik dan pintar? karena seolah aku mendapat ain dari salah satunya sehingga saat dewasa jarang sekali mendengar pujian itu lagi?

Pujian cantik bukanlah hal yang utama, tapi sedikit apresiasi bagi banyak perempuan. Terutama bagi mereka yang jarang mendapati kalimat "kamu cantik". 

Seringnya menjadi candaan sahabat bahkan keluarga sendiri dengan sebuah kalimat "kamu gendutan ya", "mukanya glowing, berminyak", "kamu di foto cantik, tapi kalo aslinya b aja ya". Bagi yang mengucapkan mungkin niatnya hanya bercanda, tapi bagi kami yang mendengar itu adalah kalimat yang menohok. Seolah meruntuhkan percaya diri dan love self yang dibangun bertahun-tahun hancur seketika. Tumbuh dengan kalimat-kalimat menyakitkan itu tentu tidaklah mudah. Setiap ada yang memuji "kamu cantik" diartikan sebagai ketidaktulusan tutur kata, bahkan jika itu terucap dari orang tua maupun orang yang tersayang. Posisiku saat ini hanya percaya pada tutur kata murid-muridku yang begitu polos.

Anak-anak adalah makhluk paling jujur yang pernah ku temui di dunia ini. Dikala ku anggap tak ada satu manusia pun yang dapat dipercaya segala pujiannya, tapi mereka mematahkan pikiran itu. Terima kasih, nak.

Komentar